Choose Your Color

Informasi

Berita

Moderasi: Adil Sejak dalam Pikiran

Moderasi: Adil Sejak dalam Pikiran

  • 2022-02-16 01:20:42
  • Administrator
  • Berita

Oleh: Fasfah Sofhal Jamil

Term moderasi atau dalam Islam lebih dikenal dengan wasathiyah bukan hal yang baru lagi bagi masyarakat Indonesi, bahkan konon sejak Indonesia masih bernama Nusantara.

Islam dikenal para pendahulu melalui jalan damai, nihil kekerasan. Tengok saja beberapa kisah walisongo yang menyebarkan Islam melalui jalan tentram, bahkan dapat dikatakan melebur dengan budaya.

Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia III: Zaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Islam di Indonesia, Marwati Djoened Poesponegoro menjelaskan bahwa penyebaran ajaran Islam di Indonesia lebih ditekankan melalui akulturasi budaya. Pendekatan ini, kemudian dianggap sebagai faktor utama diterimanya Islam di bumi Nusantara.

Sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu kita ketahui apa itu Moderasi Islam? Kemudian bagaimana pengaruhnya dalam dunia peradaban dan kemanusiaan.

Jika kita menilik KBBI V, kata “moderasi” diartikan sebagai pengurangan kekerasan, penghindaran keekstreman. Sedangkan “Islam” mempunyai definisi agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw yang berpedoman pada kitab suci al-Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah Swt.

Dengan demikian, Moderasi Islam kurang lebih memiliki pandangan sebagai alat pengerem untuk melakukan kekerasan yang mengatasnamakan agama Islam. Sedangkan Islam notabene adalah agama yang ramah, bukan marah. Sudah barang tentu jika ada kekerasan yang mengatasnamakan Islam sangatlah bertolak belakang dengan ajaran Islam yang mengutamakan kasih sayang.

Islam moderat diperankan sebagai media untuk menegaskan bahwa ajaran yang dirisalahkan Nabi Muhammad saw itu agama yang toleran. Singkatnya, Islam yang cinta damai.

“Kata wasath pada mulanya berarti segala yang baik sesuai objeknya. Orang bijak berkata “sebaik-baik segala sesuatu adalah yang di pertengahan”. Dengan kata lain, yang baik berada pada posisi antara dua ekstrem”. Tulis cendekiawan muslim dan juga pakar tafsir Indonesia Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan al-Qur’an jilid 2.

Ambil misal, kata M. Quraish Shihab, keberanian adalah pertengahan antara sifat ceroboh dan takut, kedermawanan adalah pertengahan antara sikap boros dan kikir, kesucian adalah peretengahan antara kedurhakaan yang diakibatkan oleh dorongan nafsu yang menggebu dan impotensi.

Kurang lebih ada lima kali penyebutan kata wasath dalam al-Qur’an, dalam beragam bentuk, yang paling jelas tentu terdapat dalam QS. al-Baqarah [2]: 143. Yang lainnya tersebar dalam QS. al-Baqarah [2]: 238, Q.S al-Maidah [5]: 89, QS. al-Qalam [68] : 28, dan QS. al-Adiyat [100]: 5.

Soal makna, mufasir terkemuka sekelas Ibn Jarir Ath-Thabari dan Fakhr Al-Din Al-Razi mengarahkannya kepada tiga kemungkinan. Yakni pengertian tengah-tengah, adil, atau terbaik.

Dalam pemaknaan itu, muncul pula ijtihad bahwa redaksi turunnya Ummatan washatan yang ada pada QS. al-Baqarah [2]: 143 patut diartikan sebagai kriteria ideal bagi manusia dalam menjalankan keyakinannya. Seorang muslim selayaknya tetap berada di tengah. Tidak terlalu condong ke kiri, pula ke kanan.

Dalam perkembangannya, redaksi itu meluas menjadi gagasan Islam washatiyah yang dihadirkan sebagai respon atas Islampobia yang menggejala di sebagian masyarakat dunia. Konsep ini dikampanyekan tidak lepas dari tujuan untuk mengimbangi nama Islam yang dikesankan radikal dan sering kali pengatas namanya terseret dalam tindak kekerasan.      

Eksistensi moderat merupakan peresentase sikap rahmat Allah, salah satunya terdapat pada QS. al-Baqarah [2]: 185. Dalam tafsir al-Khazin dijelaskan bahwa yang dimaksud “Allah menghendaki kemudahan bagimu” dalam ayat tersebut adalah pada konteks ibadah, yakni diperbolehkannya tidak puasa bagi musafir dan orang yang sedang sakit, sedangkan kata “tidak menghendaki kesukaran bagimu” maksudnya adalah menghilangkan kesulitan dalam urusan ibadah dari kamu sekalian.

Dalam redaksi hadis juga terdapat beberapa sikap yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad sangat toleran, salah satunya adalah redaksi hadis yang diriwatakan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah yang artinya “jika aku memerintahmu untuk melakukan sesuatu, maka laksanakanlah semampumu”.

Kemudian terdapat pula dalam redaksi hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani “aku diutus dengan membawa agama yang condong kepada kebenaran dan toleran”.

Jika ayat al-Qur’an dan hadis di atas telah menancapkan prinsip dan pondasi wasathiyah, lalu mengapa ada segelintir kelompok yang masih bersikap kaku, ekstrem, berlebih-lebihan, dan bahkan cenderung mempersulit diri?.

Tentu saja perkara tersebut perlu mendapat perhatian dari pelbagai pihak. Khalid Abou el-Fadl dalam The Great Theft: Wrestling Islam from Extrimist menuturkan, bahwa gerakan ekstremis yang berbasis agama makin menguat. Kendatipun jumlah mereka relatif sedikit, tetapi mereka mempunyai pengaruh yang cukup besar.

Jika ada moderasi, maka sudah barang tentu terdapat pula paham ekstrem. Dalam bahasa Arab, paling tidak ada tiga term yang terkait dengan masalah ini, yaitu ghuluw, tatharruf, dan tasyaddud. 

Ghuluw dan Tatharruf sendiri adalah dua kata yang senada. Tatharruf berarti “melanggar batas keseimbangan”, sedangkan Ghuluw adalah “condong dan menyimpang”. Dari sini, maka dapat diambil benang merah bahwa keduanya berarti “melanggar batas”, maksudnya kurang lebih “melanggar batas-batas ketengahan dan keseimbangan”.

Sedangkan tasyaddud jika kita lihat dari ranah ibadah, maka dapat dartikan sebagai berlebih-lebihan, kaku, dan menyimpang dari yang sebenarnya diminta.

Singkatnya, ghuluw, tatharruf dan tasyaddud dalam agama adalah tindakan menambah dan berlebih-lebihan dalam urusan agama, juga memasukkan sesuatu yang bukan dari agama ke dalam agama.

Tatharruf  adalah term yang tersebar dan dikenal luas karena banyak beredar di media masa Arab dan non-Arab. Ketiga definisi diatas tentu diperingatkan oleh Islam agar dihindari.

Jika kita menilik KBBI V, ektrem diartikan sebagai sangat keras dan teguh; fanatik. Masih dalam sumber yang sama, kekerasan didefinisikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera, matinya orang lain, menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.

Di dalam al-Qur’an tercatat aksi kekerasan berupa pembunuhan terjadi pertama kali antara kedua anak Nabi Adam as, yaitu Qabil dan Habil (QS. al-Maidah [5]: 27-31). Tentunya ada maksud tersendiri mengapa al-Qur’an menceritakan fenomena tersebut. salah satunya agar aksi kekerasan tidak terulang kembali dan setiap aksi kekerasan pasti menimbulkan goncangan jiwa dan penyesalan yang dalam dalam diri pelakunya.

Namun pada kenyataannya, kekerasan masih kerap terjadi, terlebih di negara kita ini. Masih hangat dalam pikiran kita terjadi beberapa episode bom bali I, II dan III, bom mega Kuningan yang merupakan peristiwa ledakan bom di hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton pada tahun 2009, 2 ledakan di terminal bus Kampung Melayu  Jakarta Timur pada tahun 2017.

Belum lagi ledakan bom di mancanegara, tepatnya di Kabul Afganistan ketika acara peringatan maulid sedang berlangsung pada hari Selasa 20 November 2018.

Mukhlis M. Hanafi mengatakan dalam bukunya yang berjudul Moderasi Islam, Menangkal Radikalisme Berbasis Agama  “Salah satu bentuk kekerasan yang menimbulkan kengerian dan kepanikan masyarakat dunia saat ini adalah terorisme”.

“Kepanikan tersebut mengakibatkan ketidakjelasan pada definisi terorisme itu sendiri, sehingga tidak jarang pemberantasan terorisme dilakukan dengan aksi teror lainnya. Meskipun dalam sejarah kemanusiaan aksi teror telah menjadi bagian dari fenomena kekacauan politik yang ada, tetapi sebagian kalangan mengaitkannya dengan agama Islam dan peradaban Arab. Padahal terorisme adalah fenomena umum, tidak terkait dengan agama, budaya, dan identitas kelompok tertentu” imbuhnya.

Dari keterangan di atas, terdapat jelas pengalihan makna aksi terorisme itu sendiri, dari mulanya fenomena umum kemudian diadopsi oleh kelompok yang kurang tepat dalam memahami Islam, kegagalan paham inilah yang justru mencoreng wajah Islam itu sendiri.

Ada beberapa faktor yang mengakibatkan hal tersebut terjadi, salah satunya adalah kesalahpahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an, Hadis, dan kitab-kitab klasik, menafsirkan teks-teks keagamaan berdasarkan hawa nafsu  dan jauh dari pemahaman yang benar terhadap agama yang bertolak belakang dari prinsip menjaga urusan-urusan agama dan dunia secara bersamaan.

Yang terakhir adalah memasukkan agama secara paksa ke dalam aliran-aliran politik yang beraneka ragam dan sembunyi di balik jargon-jargon keagamaan untuk mempengaruhi manusia dan menarik simpati mereka.

Secara gamblang di dalam al-Qur’an mengecam dan mengancam tindakan kekerasan, lihat saja pada Q.S an-Nahl [16]: 90 ayat ini melarang umat Islam untuk melakukan permusuhan dengan tindakan yang melampaui batas, QS. al-Maidah [5]: 87 menjelaskan tentang membunuh satu jiwa manusia sama saja membunuh umat manusia, kemudian QS. an-Nisa [4]: 93 disebutkan, siapa saja yang dengan sengaja membunuh saudaranya yang mukmin akan disediakan neraka jahannam untuk ditempati selama-lamanya.

Terkait moderasi, ada yang menarik jika kita menengok pepatah petitih  sunan Gunung Jati yang berisikan nasihat. Salah satunya pepatah petitih yang berkaitan dengan kearifan dan kebijakan, di sana menyebutkan “ake lara ati, namung saking duriat” yang artinya jika sering disakiti orang, hadapilah dengan kecintaan, bukan dengan aniaya.

Nasihat tersebut seolah mengajarkan ketika ada seseorang yang melakukan aksi intoleran kemudian kita merasa dirugikan olehnya, maka kita bukan malah membalasnya dengan hal yang serupa, jika kita membalas maka kemungkinan terjadi kedamaian sangat minim, yang ada malah memperluas kekacauan.

Tindakan yang tepat sesuai nasihat di atas adalah dengan cara merangkul pelaku intoleran tersebut dengan kasih sayang, tujuannya menyadarkan bahwa yang dilakukannya tidaklah benar dan akan merugikan orang lain. Dengan cara tersebut kerukunan antar sesama akan semakin terwujud.  

Kita kembali lagi pada pembahasan moderasi Islam. Soal ikhtiarnya, berbarengan dengan usaha Kiai Hasyim Muzadi mempromosikan Islam rahmatan lil alamin, di Malaysia pernah terdengar jargon Islam Hadhari. Tawaran prinsip keberagaman yang langsung diusung perdana menteri Abdullah Ahmad Badawi ini menggaris bawahi sepuluh perinsip penting yang menunjukkan jalan tengah Islam sekaligus respon terhadap perkembangan zaman.

Islam Hadhari sendiri mencita-citakan pribadi muslim yang maju dan sanggup bersaing. Ada semmacam nostalgia pada kerajaan Islam di masa lalu. Dalam Islam Hadhari konsep yang dinamakan tamaddun merujuk pula pada keungulan peradaban mesir, maupun negeri-negeri Eropa.

Tapi yang mengagetkan, pada 2008, sebuah institusi akademik di Kuala Lumpur memunculkan hasil riset bahwa 63 persen dari sebanyak 3.013 responden menyatakan Islam Hadhari  bukan tawaran terbaik. Sementara yang setuju, hanya 5 persen saja.

Selidik demi selidik, karena Islam Hadhari digawangi langsung sebagai proyek pemerintah. Jauh berbeda dengan konsep Islam rahmatan lil alamin Kiai Hasyim Muzadi. Hanya ada 3 persen saja responden yang setuju bahwa Islam Hadhari mampu meningkatkan moral pimpinan negara. Selebihnya, sebanyak 70 persen nyaris mengatakan itu bohong.

Indonesia memang kaya akan segalanya. Lihat saja ada beberapa Islam Moderat yang cetuskan oleh beberapa tokoh, sebut saja Gus Dur yang kerap menyuarakan prinsip dengan apa yang disebutnya pribumisasi Islam, begitu juga dengan Cak Nur  dengan Islam Hanifnya, atau KH. Said Aqil Siradj dengan platform Islam Nusantaranya, bahkan Muhammadiyah sejak tahun 1950-an telah mengenalkan Islam Berkemadjoean.

Meski begitu, watak moderasi Islam Indonesia ternyata bukan sesuatu yang halal dibiarkan. Ia tetap perlu dikawal. Kehadiran Islam dengan mengedepankan rasio perdamaian itu tidak bebas ancaman. Riwayat Islam masuk ke Indonesia memang agak beda, jalannya bukan peperangan. Lebih banyak ditandai dengan aneka negosiasi budaya. Pertemuan antar budaya turut menyumbangkan atau membentuk praktik keagamaan.

Kurangnya kerukunan bangsa bisa jadi karena kurangnya sifat moderasi dan saling menghargai. Toleransi dalam ranah kebangsaan tidak dapat terealisasi tanpa membangun toleransi di lingkungan umat Islam itu sendiri.

Dan salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk mewujudkan impian tersebut adalah dengan meneladani para ulama terdahulu dalam membangun susunan toleransi, seberapapun perbedaan diantara mereka, mereka masih saling memuji, menghormati dan legowo menerima perbedaan.

Yang tidak kalah pentingnya dalam visi moderasi Islam adalah komitmen terhadap kemaslahatan umat. Perlu diingat bahwa toleransi saja tidak cukup tanpa membangun keadilan sosial, maka dari itu di dalam butir pancasila terdapat “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Alhasil Pancasila adalah prinsip wasathiyah itu sendiri. Pun sebaliknya, jika pancasila sudah memberi banyak manfaat dalam kerukunan agama, harusnya semangat itu diturunkan pula ke dalam problem sosial politik dan permasalahan bangsa yang lainnya.

Seiring arus globalisasi kian menganga, Indonesia makin berkepentingan pula dalam membendung benih intoleransi, bahkan gelombang terorisme yang sedikit banyak ikut mengibas. Kuncinya, dengan merawat watak moderat, mengkampanyekan Islam wasathiyah yang senilai dengan pedoman kebangsaan bernama Pancasila.

Sikap moderat tak lain bertujuan untuk membangun toleransi dan kebersamaan. Maka yang wajib kita perjuangkan secara konsisten adalah memperkecil volume kebencian dan kekerasan antar sesama anak bangsa, terlebih di tahun sekarang yang katanya tahun politik maka tak dipungkiri akan terjadi beberapa gesekan yang dapat merobohkan kekokohan persatuan.

Akhir-akhir ini kekerasan seolah telah menjadi tren untuk menyelesaikan masalah. Padahal kita semua tahu, bahwa kekerasan adalah akar dari masalah, dan tentunya bukan solusi dari masalah.

Terakhir, jika boleh mengutip perkataan Pram yang mengatakan, Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Maka, moderasi itu sebenarnya ada pada diri kita masing-masing selama kita masih bisa berpikir.

Wallahu a’lam…