Choose Your Color

Informasi

Berita

Kartini Menurut Al-Qur'an dan Pendidikan Generasi Alfa

Kartini Menurut Al-Qur'an dan Pendidikan Generasi Alfa

  • 2022-04-20 21:40:38
  • Administrator
  • Berita

Oleh: Fasfah Sofhal Jamil

Terhitung sejak 1964,  21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Tanggal yang notabene hari lahir R.A Kartini itu diperingati sebagai refleksi akan kesetaraan perempuan, khususnya kepemimpinan, pendidikan, dan menentukan nasib. 

Jika diperhatikan, semakin hari peringatan Katini hanya sekadar seremonial belaka. Seperti upacara, festival kebaya, cipta puisi, sampai lomba rias, dan lain sebagainya. Padahal, ada yang lebih penting dari seremonial, yakni teladan.

Saya kira mencari sumber tentang sejarah hari Kartini begitu banyak di lalu lintas internet, mulai dari latar belakang keluarganya, masa kecil Kartini, dan surat keputusan Presiden Soekarno kala itu.

Pada kesempatan ini, kita lebih fokus pada sosok Kartini yang sangat membenci Feodal. Sudah tidak diragukan lagi bahwa Kartini memiliki silsilah keturunan yang cukup mentereng, ia merupakan anak dari seorang Bupati Jepara kala itu. 

Sedangkan ibunya hanya rakyat biasa dan seorang selir dari suaminya. Hal itu membuat kartini dituntut untuk memanggil ibunya dengan sapaan “Yu” atau kepanjangan “Mbakyu”, panggilan yang populer kepada seorang kakak perempuan.

Sementara, sang ibu harus memanggil Kartini dengan panggilan “Ndoro” (Sapaan untuk bangsawan Jawa), tidak cukup di situ, Ibu nya pun harus menunduk jika jalan di depan Kartini. Itu lah aturan pada feodal Jawa.

Meski demikian, Kartini sangat menolak penggunaan feodal tersebut, ia lebih suka dipanggi hanya Kartini saja ketimbang penggunaan Raden Ajeng. Karena menurutnya tidak ada yang lebih gila dan bodoh daripada melihat orang yang membanggakan asal dan keturunan.

Karena itu pula, Kartini membebaskan dirinya dari dunia adat, ia melarang adiknya berjalan jongkok, menyembah, menunduk, dan bersuara pelan saat berbicara dengannya. Dia malah menyuruh mereka untuk bicara apa adanya saja saat tidak ada ibunya.

Melihat sosok Kartini yang keukeuh menolak kasta, bisa kita simpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh Kartini itu semata-mata hanya mengenai kesetaraan, dan mungkin bisa dijadikan sebagai cerminan bagi perempuan pada saat ini.

Kartini Menurut Al-Qur’an

Al-Qur’an mengajarkan tentang kesetaraan, lihat saja QS Al-Hujurat ayat 13. Pada ayat tersebut secara gamblang disebutkan bahwa yang membedakan antara laki-laki dan perempuan hanyalah ketakwaan. 

Perlu digaris bawahi, bahwa kesetaraan dan keadilan itu berbeda, keadilan lebih ke penempatan sesuai kadarnya.

Menyoal tafsir, para ulama beragam pendapat, ambil misal pada At-Thabari, ia menegaskan bahwa yang menjadi pembeda adalah ketakwaan kepada Allah, yang menjadi mulia bukan lah dari keturunan.

Senada dengan itu, mufasir lainnya, Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya, bahwa memang yang menjadi pembeda hanya lah sisi ketakwaan, bukan keturunan.

Juga disebutkan di dalam tafsir Al-Bahr Al- Muhith, tujuan dijadikannya berbeda suku yakni untuk saling mengenal. Maka, janganlah kalian saling mengkalim dari turunan yang lain, jangan pula berbangga dengan nasab mulia bapak dan kakeknya.

Tidak cukup di situ, tafsir Jalalain pun mengatakan demikian, ia menghimbau janganlah saling bangga dengan nasab yang dimiliki, namun saling bangga lah kalian dari nilai ketakwaan.

Ada yang mencolok pada beberapa uraian tafsir di atas, yaitu mengenai nasab atau keturunan. Mengapa demikian? Hal ini dirasa wajar, karena bangsa Arab sangat mengagungkan nasabnya, bisa dilihat pada penggunaan nama yang selalu diiringi dengan “Bin”.

Lalu bagaimana ungkapan hadis yang popular menyebutkan perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki?

Menurut cendekiawan muslim dan juga pakar tafsir Nusantara, M. Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Qur’an mengatakan, hadis itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya. Jika hadis itu benar adanya, maka akan berdampak buruk bagi pandangan perempuan, ia akan selamanya di bawah laki-laki.

Lantas apa penyebab kesalahpahaman mengenai gender yang seakan akrab di telinga masyarakat?

Dalam kaitan dengan relasi gender dijumpai sekian banyak pemahaman dan penafsiran Islam yang distortif dan bias gender, dan itu dengan mudah ditemukan pada kitab-kitab tafsir, baik klasik maupun kontemporer.

Penyebabnya, menurut Siti Musdah Mulia dalam buku ‘Islam dan Inspirasi Kesetaraan Geder’, mengatakan ada tiga penyebab, yakni: pertama,seperti yang saya katakana tadi, bahwa pemahaman terkait  asal-usul penciptaan manusia menjelaskan manusia pertama adalah Adam, baru kemudian Hawa.

Imbasnya, perempuan diposisikan sebagai subkordinat laki-laki. Dia hanyalah ‘the second human being’, manusia kelas dua.

Kedua, pemahaman mengenai kejatuhan Adam dan Hawa dari surga. Konon, Adam dijatuhkan dari surga karena ulah Hawa, istrinya yang lebih dulu terpengaruh oleh bisikan iblis. Implikasinya, perempuan hakikatnya makhluk penggoda dan lebih dekat dengan iblis.

Ketiga, pemahaman tentang kepemimpinan perempuan. Di mata masyarakat, perempuan diajarkan bahwa ia tidak layak jadi pemimpin karena tubuhnya sangat lembut dan lemah.

Point ketiga ini dapat langsung terbantahkan oleh Faqihuddin Abdul Kodir dalam buku Qiro’ah Mubadalah nya. Ia menyebutkan bahwa QS. At-Taubah ayat 71, ayat ini adalah yang paling pokok dalam perspektif kesalingan. Sehingga ia menjadi pondasi dalam menafsirkan ayat-ayat lain, termasuk di antaranya ayat-ayat tentang kekhilafahan manusia di muka bumi.

Dengan keyakinan bahwa al-Qur’an tidak bertentangan satu sama lain, tetapi saling mendukung dan saling menafsirkan, maka tafsir “kekhilafahan bagi manusia yang mencakup laki-laki dan perempuan” adalah yang paling tepat dalam mempertemukan QS. At-Taubah ayat 71. 

Singkatnya, dari uraian di atas, perbedaan gender sesungguhnya merupakan hal yang biasa saja sepanjang tidak mengakibatkan ketidakadilan gender.

Kartini patut diteladani, terlebih bagi kaum santri, karena konon Kartini juga merupakan seorang santri dari Syeikh Sholeh Darat Semarang.

Ibu; Kartini Masa Kini dan Bekal Pendidikan Generasi Alfa

Seorang perempuan pastilah identik dengan keibuan, ia bakal menjadi seorang pendidik dan madrasah pertama bagi anaknya kelak. Selain menjadi perhiasan, anak juga merupakan tanggung jawab terbesar yang harus dirawat dan dididik bagi kedua orang tuanya.

Islam sudah banyak memberikan tuntunan bagaimana cara mendidik keluarga muslim, terutama tentu mendidik anaknya. QS. At-Tahrim ayat 6 telah menyinggung tentang pendidikan keluarga yang ideal.

Pada ayat itu ditegaskan bahwa setiap orang yang beriman agar menjaga dirinya dan keluarganya dari bahaya siksa api neraka. Oleh karenanya, orang tua perlu mendidik anak-anaknya dan menjaga mereka dari segala perilaku buruk dan tercela yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam neraka.

Tidak hanya pada ibu, sifat Kartini juga dapat diduplikatkan kepada seorang ayah. Bahwa seperti yang dikutip pada surat Luqman ayat 12-19 seorang ayah pun berperan penting dalam pembentukan karakter pendidikan sang anak.

Yang menarik, sepanjang ayat 12-19 surat Luqman itu terdapat spesifikasi tersendiri terkait dunia pendidikan. Pada ayat 12 misalnya yang terdapat penjelasan tentang pendidikan tauhid.

Menurut Ibn Katsir, ayat 12 surat Luqman itu jelas menunjukkan bahwa mempersekutukan Allah merupakan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang muslim. Sebab jika mempersekutukanNya, berarti ia telah berbuat aniaya terbesar terhadap dirinya sendiri.

Kemudian selanjutnya pada ayat 17 yang menjelaskan tentang konsep pendidikan syari’at atau aturan-aturan beribadah dan bermuamalah.

Islam mengajarkan bahwa akhlak tidak bisa dipisahkan dengan Iman. Maka dari itu,  pada ayat 18-19 surat Luqman dijelaskan mengenai pendidikan akhlak.

Tantangan pada anak-anak saat ini bukan hanya lingkungan atau teman-temannya saja, lebih dari itu tantangan terbesarnya justru seperti sudah melekat pada diri kita, yaitu gadget atau smartphone.

Anak-anak kelahiran 2010 ke atas, saat ini mereka sudah piawai mengoperasikan HP. Lengah pengawalan saja ia bisa saja mengakses konten yang tidak sesuai dengan porsinya, misal pornografi, kekerasan, radikalisme, dan konten negatif lainnya.

Itu lah definisi generasi alfa, ia merupakan generasi yang lahir di tengah pesatnya kemajuan teknologi. Memang, mereka bisa dikatakan lebih unggul, namun semua juga pasti ada konsekuensinya.

Generasi alfa ialah generasi yang lahir pada 2010-2024.Saat ini, generasi milenial lebih sering digaungkan, padahal perhatian generasi alfa lebih penting, karena generasi ini akan menjadi generasi milenial di masa mendatang.

Lalu bagaimana agar generasi alfa ini berjalan sesuai rel nya? Selain pendampingan orang tua terhadap pengaksesan konten, juga kenalkan dengan permainan non gadget, seperti permainan tradisional, atau permainan Board For Peace yang mengajarkan kebersamaan.

Pada algoritma media sosial, pengaksesan media yang sering dikunjungi anak-anak adalah YouTube, jika salah penggunaan bisa saja ia mengklik rekomendasi video yang bukan untuknya. Selain pendampingan tadi, bisa juga menggunakan aplikasi YouTube for children.

Kartini memang sudah tiada, namun roh semangat kesetaraan, pendidikan, akan terus menjadi nyawa bagi kaum perempuan sekarang. Kartini sekarang lebih sulit, karena Kartini saat ini digempur dari berbagai arah, termasuk dari sisi media informasi.

*Penulis merupakan Pengurus Pusat FKMTHI Bidang Digitalisasi dan Website