Choose Your Color

Pengumuman

Penting

Saat ini akun instagram @fkmthi_nasional di ambil alih oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Kami sedang mencoba untuk memulihkan, kepada pengunjung diharapkan untuk tidak terprovokasi dan terhasut oleh postingan terbaru di instagram kami.

Informasi

Berita

Hubungan Antara Iman dan Kesehatan Mental Perspektif Psikologi dalam Al-Qur’an

Hubungan Antara Iman dan Kesehatan Mental Perspektif Psikologi dalam Al-Qur’an

  • 2022-12-08 00:36:40
  • Administrator
  • Berita

Oleh: Ninda Karisna

Mahasiswi Program Studi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir STAI Syubbanul Wathon Magelang, Jawa Tengah,

Kesehatan mental adalah kondisi seseorang yang terbebas dari gejala gangguan mental. Seseorang yang sehat secara mental dapat menjalankan hidupnya dengan normal terlebih saat menghadapi masalah yang akan ditemui sepanjang hidup dengan kemampuan pengolahan stres[1].

Kesehatan mental erat kaitannya dengan keimanan seseorang terhadap takdir bila diartikan secara teosentris[2]. Artinya, seseorang memiliki intervensi dalam setiap perbuatannya sebagai contoh seorang muslim memiliki pedoman hidup kitab suci Al Qur’an yang di dalamnya juga memuat nilai-nilai kajian keilmuan tentang perilaku manusia atau yang disebut psikologi. Namun, kebanyakan orang menghubungkan antara tingkat iman seseorang dengan terganggunya kesehatan mental.

Oleh sebab itu, pada artikel ini akan dibahas mengenai kebenaran dari hubungan antara keduanya sehingga setiap orang tidak salah dalam mengartikan semua hal yang harus berhubungan dengan tingkat keimanan. Lalu benarkah ada hubungannya jika seseorang mengalami gangguan mental disebabkan oleh tingkat imannya yang rendah? Yuk simak pembahasan berikut.

Pada masa belakangan ini, para peneliti mulai mengeksplorasi adanya kontribusi positif yang dapat memberikan spiritualitas terhadap kesehatan mental[3]. Beberapa orang yang telah melewati masa-masa sulit tersebut menyebutkan jika aktivitas spiritual dapat bermanfaat dalam menjaga kesehatan mental berserta pemulihannya.

Meskipun demikian, kesehatan mental seseorang tidak hanya bergantung pada tingkat keimanannya saja. Ada banyak faktor yang membuat orang sulit untuk menghadapi tekanan yang berat sehingga mengalami depresi. Kamu dapat terus melakukan segala hal yang berhubungan dengan spiritual.

Setelah segala perbuatan yang berhubungan dengan tingkat spiritualitas dapat memberi manfaat untuk mengatasi gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Ada dua hal yang dapat dilakukan seseorang agar mentalnya lebih sehat pasca mengalami trauma [4] :

Pertama, meskipun tidak selalu, tetapi segala hal yang berbau agama dapat membuat seseorang kuat menghadapi trauma karena merasa tentram. Sebagaimana pada firman Allah Swt QS Ar-Ra’d ayat 28 :

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”.

Kedua, pengalaman yang traumatis dapat membuat seseorang lebih mendalami agama. Gambaran psikologis orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah pada saat mereka memiliki maksud atau tujuan tertentu terletak dalam QS Yunus ayat 12 :

وَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْۢبِهٖٓ اَوْ قَاعِدًا اَوْ قَاۤىِٕمًا ۚفَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهٗ مَرَّ كَاَنْ لَّمْ يَدْعُنَآ اِلٰى ضُرٍّ مَّسَّهٗۗ  كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan”.

Nah, sekarang Anda tahu jika tingkat keimanan seseorang memang dapat memberikan manfaat terhadap kesehatan mental. Meski begitu, hal tersebut bukan satu-satunya yang perlu dilakukan jika kamu mengalami gangguan mental. Pastikan juga untuk menemui ahli medis guna mengatasi masalah yang terjadi, agar gangguan yang ada lebih mudah untuk diatasi.

 

Referensi:

Samaiun, Budihardjo. Konsep Kesehatan Mental Dalam Al-Qur’ān Dan Implikasinya Terhadap Adversity Quotient Perspektif Tafsir Al-Misbah, (Salatiga: Atta’dib Jurnal Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Bone)

Dewi, Kartika Sari. 2012. Buku Ajar Kesehatan Mental. (Semarang: PT UNDIP Press)

Wahyuni,dll. 2109. Apakah Spiritualitas Berkontribusi Terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa?, (Malang: Jurnal Educatio)

Ayuningtyas, Ira Palupi Inayah. 2017 Penerapan Strategi Penanggulangan Penanganan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) Pada Anak dan  Remaja), (Semarang: PROCEEDINGS)

 

 

 

[1] Samain & Budihardjo. Konsep Kesehatan Mental Dalam Al-Qur’ān Dan Implikasinya Terhadap Adversity Quotient Perspektif Tafsir Al-Misbah, (Salatiga: Atta'dib Jurnal Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Bone, 2020), Vol. 1, No. 2, hlm. 17

[2] Dewi, Kartika Sari. Buku Ajar Kesehatan Mental. (Semarang: PT UNDIP Press), 2012

[3] Esa Nur Wahyuni, Khairul Bariyyah. Apakah Spiritualitas Berkontribusi Terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa?, (Malang: Jurnal Educatio, 2019), Vol. 5, No. 1, hlm 46

[4] Ira Palupi Inayah Ayuningtyas, Penerapan Strategi Penanggulangan Penanganan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) Pada Anak dan  Remaja), (Semarang: PROCEEDINGS, 2017), hlm. 47