Choose Your Color

Informasi

Pengumuman

Adakan Pelatihan Pentashihan Al-Qur’an di STKQ Al-Hikam, LPMQ Kenalkan Mushaf Isyarat

Adakan Pelatihan Pentashihan Al-Qur’an di STKQ Al-Hikam, LPMQ Kenalkan Mushaf Isyarat

  • 2023-02-25 06:54:55
  • Administrator
  • Pengumuman

Fkmthi.com: Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam Depok bekerja sama dengan Kemenag RI mengadakan Pelatihan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Indonesia (MSI). Pelatihan yang berlangsung selama dua hari tersebut, menghadirkan Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) sebagai narasumber.

Ketua STKQ Al-Hikam Depok, M. Yusron Shidqi, Lc, MA, menyampaikan ungkapan terima kasihnya kepada Kemenag dan LPMQ yang berkenan mengadakan pembinaan pelatihan pentashihan MSI di STKQ Al-Hikam.

Menurutnya, pelatihan ini sangat penting bagi para mahasiswa prodi IAT. Karena itu mereka yang berkecimpung dalam dunia Al-Qur’an dan tafsir tentu harus mengetahui ini. Terlebih lagi, bagi mereka yang juga para huffaz.

“Kalau bukan para huffaz, siapa lagi yang akan mentashih Al-Qur’an?,” ujar M. Yusron pada Senin, 20 Februari 2023.

Satu hal yang menarik dalam pelatihan yang bertempat di Auditorium STKQ tersebut, pihak LPMQ mempromosikan mushaf terbitan baru, yakni Mushaf Isyarat. Mushaf Isyarat merupakan mushaf edisi terbaru yang diperuntukkan bagi kalangan Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (PDSRW).

Kehadiran mushaf ini sangat bermanfaat bagi para penyandang PDSRW. Pasalnya, mereka memanfaatkan kemampuan visual melalui isyarat tangan, membaca ujaran, ekspresi wajah dan gestur tubuh dalam melaksanakan fungsi berbicara dan mendengar. Oleh karena itu, mushaf terbaik bagi mereka ialah mushaf yang sesuai dan selaras dengan kemampuan mereka.

Menurut Ida Zulfiya, narasumber Mushaf Isyarat mengatakan bahwa, ide penyusunan Mushaf Isyarat ini sudah lama sejak tahun 2019 melalui penjajakan lembaga pembina PDSRW dan dengan sederet prosedur baru mulai disusun pada tahun 2022 melalui sidang LPMQ.

Ia menyebut bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci yang tentu harus dikenal dan dapat dibaca oleh tiap kalangan umat Islam, termasuk para penyandang disabilitas. “Hadirnya mushaf ini dengan ragam model pembelajaran, diharapkan dapat mempermudah mereka (kalangan tuna rungu) dalam membaca Al-Qur’an,” ujarnya.

Sejauh ini, kata dia, setidaknya sudah terdapat 6 ragam model pembelajaran mushaf isyarat di Indonesia, seperti oral murni, isyarat SIBI, isyarat BISINDO, Isyarat Huruf Hijaiyah, Isyarat Huruf Hijaiyah dan Tanda Baca, serta gabungan. “Keenam model inilah yang terus menjadi acuan bagi LPMQ dalam mengajarkan Mushaf Isyarat,” kata Ida.

Dalam salah satu materi yang ia sampaikan, Ida menyebutkan bahwa, sejatinya bahasa isyarat ini sudah dikenal sejak zaman Nabi Zakariya a.s. saat beliau berdakwah dan menyeru kepada kaumnya dengan isyarat dan simbol tertentu atas perintah Allah SWT. Hal itu tercantum dalam Surah Ali Imran: 41 dan Surah Maryam 10-11.

“Kendati tidak dibaca dengan lantunan suara, mushaf isyarat ini tetap bernilai pahala. PDSRW yang melakukan gerakan tangan berisyarat untuk membaca Al-Qur’an akan mendapatkan pahala dari bacaannya sama seperti orang dengar,” jelasnya.

Konsekuensinya, lanjut Ida, jika dalam keadaan hadas besar, maka tidak boleh melakukan gerakan tangan sebagai isyarat membaca Al-Qur’an.

“Dengan demikian, Al-Qur’an akan selalu terbuka bagi tiap kalangan. Ia semakin mudah dibaca oleh siapapun bahkan bagi yang mereka para penyandang disabilitas. Kedepannya, kehadiran mushaf ini dapat membantu dalam memberantas buta huruf Al-Qur’an,” tandasnya.