Choose Your Color

Pengumuman

Penting

Saat ini akun instagram @fkmthi_nasional di ambil alih oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Kami sedang mencoba untuk memulihkan, kepada pengunjung diharapkan untuk tidak terprovokasi dan terhasut oleh postingan terbaru di instagram kami.

Informasi

Artikel

Implementasi Haji Mabrur dalam Kehidupan

Implementasi Haji Mabrur dalam Kehidupan

  • 2023-07-03 01:47:29
  • Administrator
  • Artikel

Oleh: Muhammad Ebin Rajab Sihombing

(Mahasiswa IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

STATUS mabrur tentu diidamkan bagi jemaah haji Indonesia yang kini tengah bersiap untuk pulang ke Tanah Air. Proses kepulangan tamu Allah itu dijadwalkan berlangsung mulai 4 Juli 2023.

Istilah haji mabrur sudah familiar di telinga masyarakat Muslim Indonesia. Kalimat ini akan sering ditemui saat mendekati bulan haji, baik ketika walimatu safar atau dalam untaian doa di  beberapa kegiatan. Misalnya potongan doa yang berbunyi  Allahummaj’al  hajjahum hajjan mabruura yang atinya “Ya Allah jadikanlah haji mereka haji yang mabrur.

Jika dilihat dari struktur bahasa, kata mabrur merupakan  isim maf’ul dari kata Al-Birru yang memiliki pengertian baik, taat atau menaati. Oleh karena itu, jika disandingkan dengan kata haji maka artinya adalah haji yang baik . Adapun pengertian haji mabrur dilihat dari perspektif syar’i adalah ibadah yang dilaksankan sesui tuntunan syar’i dan dilakukan dengan mengharap rida Allah Swt.  

Dikutip dari tayangan YouTube Najwa Shihab yang diunggah pada 9 April 2018, pakar tafsir Indonesia, Prof Quraish Shihab menjelaskan, haji mabrur adalah satatus yang disandang bagi mereka yang mampu menepati janji. Sebab, setiap acapan dari rangkaian haji banyak mengucapkan janji, misalnya labbaikallahumma labbaik.

Terdapat beberapa ciri-ciri dari haji mabrur, hal ini pernah ditanyakan oleh para sahabat kepada Rasulullah Saw:

قالوا: يا رسول الله, ما الحج المبرور؟ قال : اطعام الطعام و افشاء اللآم

“Mereka berkata, wahai Rasulullah : Apakah haji mabrur itu? Rasulullah kemudian menjawab  yaitu suka memberi makan dan menebarkan salam atau kebaikan. (HR. Ahmad)

Di dalam riwayat lain, tepatnya dalam kitab Umdatul Qari karya Imam Badrudin Al-Aini  terdapat juga penjelasan serupa dengan redaksi yang sedikit berbeda:

سئل النبي ما بر الحج قال إطعام الطعام وطيب الكلام

“Rasulullah ditanya tentang haji mabrur, maka Rasulullah menjawab ‘ memberi makan dan ucapan yang baik.”

Dari penjelasan dua hadis di atas, dapat dilihat bahwa haji yang mabrur bukan hanya pelaksanaanya yang sesuai syariat belaka, melainkan bagaimana ibadah haji mampu memberikan efek fositif bagi pelaksananya. Hal ini senada dengan apa yang pernah disampaikan oleh Imam Hasan Al-Basri bahwa haji yang mabrur adalah perubahan ke arah yang lebih baik dari perilaku sebelum haji dan mampu menjadi tauladan di masyarakat.

Inti ajaran ibadah haji adalah bagaimana mampu mengimplementasikan hablum minallah, hablum minannas dan hablum minalalam. Artinya haji mabrur bukanlah predikat yang mudah untuk diraih, tetapi balasannya juga luar biasa berupa surga (HR. Bukhari no. 1773).

Oleh karena itu, menjadi haji yang mabrur memerlukan perjuangan yang ekstra, mulai dari niat yang ikhlas sebelum berangkat , ketika pelaksanaan, terlebih sesudah kembali dari tanah suci.