Choose Your Color

Informasi

Berita

Menyelami Makna Harapan Hidup: Mengapa Allah Membuat Hambanya Gagal Berkali-kali?

Menyelami Makna Harapan Hidup: Mengapa Allah Membuat Hambanya Gagal Berkali-kali?

  • 2024-01-07 17:39:12
  • Administrator
  • Berita

Oleh: Ni'matus Sa'adah (Mahasiswi IAT STKQ Al-Hikam)

DALAM perjalanan hidup tiap orang, harapan adalah mimpi-mimpi yang menuntun setiap langkah untuk terus berlayar mengarungi luasnya samudera kehidupan, di mana tiap arus gelombangnya membawa arti bahwa sampai kapan pun air laut tak kan pernah surut sekalipun kemarau telah meradang.

Segala sesuatu pasti mempunyai alasan mengapa ia diciptakan, maka muhal rasanya, jika Allah menguji hambanya tanpa ada obat yang mengiringinya. Tak ada perjuangan tanpa ikhtiar, dan tidak ada kata mustahil untuk terus mengeksploitasikan diri menjadi pribadi yang lebih baik, karena waktu akan terus berjalan dan memberikan kejutan yang berbeda di tiap detik yang dimilikinya.

Telah termaktub dalam al-Qur’an, bahwa manusia diciptakan dengan memiliki watak berkeluh kesah, maka bukan hal yang tabu bila kegagalan membuatnya beranggapan bahwa ia sudah tak layak lagi untuk mendambakan sesuatu yang menjadi impiannya.

Bahkan, Allah melarang hambanya untuk bersedih, sebagaimana firman-Nya:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.”

Imam Al-Qurthubi menyebutkan dalam Tafsir Jamili Ahkam Al-Qur’an, bahwa Allah menghibur para sahabat yang mengalami kekalahan di perang Uhud, serta melarang para sahabat untuk menyerah dari kegagalan meski telah jelas bahwa mereka telah gagal dalam berperang.

Bahkan Allah menjanjikan mereka dengan dapat diraihnya kemenangan, jika mereka percaya pada janji Allah yang diberikan pada orang-orang yang beriman.

Meski ayat di atas terkhithob pada sahabat, tetap yang terkhitobi oleh Allah adalah semua umat Islam. Karena sudah jelas bahwa Al-Qur’an milik umat Islam serta menjadi pedoman mereka kemukjizatannya di sepanjang zaman. Bahkan, diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.

Dari Nabi Saw. bersabda:

ما يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِن نَصَبٍ ولا وصَبٍ، ولا هَمٍّ ولا حُزْنٍ ولا أذًى ولا غَمٍّ، حتّى الشَّوْكَةِ يُشاكُها، إلّا كَفَّرَ اللَّهُ بها مِن خَطاياهُ. الراوي: أبو هريرة • البخاري، صحيح البخاري (٥٦٤١) • [صحيح] • أخرجه البخاري (٥٦٤٢) واللفظ له، ومسلم (٢٥٧٣)

“Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan atau rasa gelisah sampai duri yang melukainya, melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”

Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa dengan kasih sayang-Nya yang tak terbatas pada hambanya, Allah menjadikan musibah yang dialami hamba yang dicintainya sebagai penebusan atas dosa-dosa yang telah dilakukan hambanya, walaupun musibah itu hanya berupa luka karena tertusuk sebuah duri.

Unik bukan? Ketika Allah membuat hamba-Nya gagal, bahkan sampai berkali-kali sekalipun, tidak lain itu hanya karena ia sangat mencintai hamba-Nya dan ingin menguji seberapa kuatkah hamba-Nya dalam bertahan atas ujian yang diberikan-Nya.

Betapapun buruknya suatu kegagalan, ia pasti akan menjelma bak kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong tempat persembunyiannya. Ia akan menjelma menjadi pribadi yang keindahannya dikenang oleh umat sepanjang masa.

Allah juga berfirman dalam hadits Qudsi-Nya bahwa ia lebih dekat dengan hamba-Nya dari pada urat nadi. Bisa kita bayangkan, bagaimanakah kita hidup tanpa urat nadi? karena kedekatan Allah dengan hambanya tersebut, apakah Allah senantiasa membiarkan hambanya berlarut-larut dalam kegagalan? tentu tidak.

Justru seseorang yang berhasil tanpa adanya kegagalan yang bertubi-tubi itulah yang patut dipertanyakan. Ibarat seseorang yang mengikuti lomba panjat pinang, ia hampir sampai pada level teratasnya, tapi ia mundur hanya karena teriakan lawan yang meragukan kemampuannya untuk mencapai batas akhir.

Bagaimana tidak? Kegagalannya secara tak kasat mata menunjukkan bahwa tak ada toleransi yang ia bangun dalam dirinya. Apakah maksud toleransi pada diri sendiri itu?

Dalam salah satu karyanya, Prof. M. Quraish Shihab mengungkapkan bahwa toleransi pada diri sendiri adalah bermaksud berlapang dada saat mengalami kegagalan dan keterbatasan.

“Tak jarang, manusia karena memiliki target atau idola dalam hidupnya, tetapi bisa jadi setelah berusaha, ternyata ia gagal, atau bisa jadi ia melakukan kesalahan yang dinilainya sangat besar atau memang pada hakikatnya memang sangat besar, sehingga ada orang-orang yang mengecam dirinya melampaui batas sehingga terjatuh dalam depresi yang berkelanjutan, maka, sosok yang semacam itu tidak menoleransi dirinya dan tidak menyadari bahwa ia mempunyai kelemahan serta tidak sadar bahwa Tuhan tidak membebani manusia melebihi kemampuannya,” tulisnya.

“Lapang hati saat gagal, ikhlas menerima keterbatasan adalah bagian dari toleransi kepada diri sendiri,” tambahnya. Investor terkenal dunia, Bill Gates, pernah berkata: “Jangan lupakan kegagalan, karena memperhatikan kegagalan adalah pelajaran terpenting.”

Ia bernama William Henry Gates III, yang terkenal dengan nama Bill Gates, ia adalah seorang pengusaha, investor, filantropis, dan penulis berkebangsaan Amerika. Dikenal sebagai pendiri sekaligus CEO Software Microsoft bersama teman kecilnya yang bernama Paul Allen.

Bisa kita bayangkan, apa itu Microsoft dan berapa banyak orang di dunia ini yang menggunakannya, karena canggihnya teknologi, sehingga hampir setiap orang merasakan betapa dibutuhkannya Software tersebut untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka. Bertolak dari itu, banyak dari sekian cara untuk mencapai kesuksesan, Imam Ibn Malik berkata dalam karya monumentalnya, Alfiyah Ibnu Malik, bahwa kunci untuk mencapai sebuah kesuksesan dalam hidup ada lima, yaitu dengan tunduk (bil jarr), niat mencari ridho Allah (tanwin), dzikir (nida’), berfikir (al), beramal nyata (musnad ilaih), yang terangkum dalam sya’irnya:

بالجروالتنوين واالنداوأل # ومسند للإسم تمييزحصل

Maka, telah jelas bukan? Bahwa sangat penting bagi seseorang untuk bisa memaafkan dirinya sendiri dan senantiasa berprasangka baik pada Allah. Tanpa kesadaran tersebut, tak akan ada toleransi terhadap diri sendiri, lebih-lebih pada orang lain, Pada hakikatnya, harapan adalah modal utama dalam mempertahankan hidup.

Kita hanya perlu fokus memandang masa depan dan tidak menoleh mundur ke belakang. Karena masa lalu itu bukan untuk ditakuti, ia hanyalah cermin agar kita menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.

Jadi, tak ada yang namanya kegagalan itu sia-sia, bahkan ia bisa membawa kemenangan bagi yang sabar dan tawakkal dalam menghadapinya, dan tak ada kata terlambat dalam dunia orang-orang yang berhasil mencapai kesuksesan dalam hidupnya, karena sejatinya, kata terlambat hanya bagi mereka yang gagal dan tak mau bangkit dari kegagalan yang dialaminya itu.