Choose Your Color

Informasi

Berita

Tafsir QS. Ar-Rum Ayat 41: Pentingnya Pengelolaan Sampah dengan Baik di Era Modern

Tafsir QS. Ar-Rum Ayat 41: Pentingnya Pengelolaan Sampah dengan Baik di Era Modern

  • 2024-01-13 19:33:49
  • Administrator
  • Berita

Oleh: Asyifa Afifatur Rohmah

(Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto)

 

MASALAH kultural terkait pengelolaan sampah semakin mencuat dan menuai kontra dari berbagai sisi kehidupan. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap upaya pengelolaan sampah memunculkan berbagai dampak negatif mulai dari problematika kesehatan, pencemaran alam, bencana banjir dan lain sebagainya. 

 

Volume sampah di Indonesia yang semakin tinggi dari tahun ketahun tidak terlepas dari pengaruh jumlah penduduk dan kondisi ekonomi yang semakin meningkat. Dalam hal ini, Pusat Lingkungan Hidup ITB mengemukakan bahwa sampah rumah tangga yang dihasilkan di Indonesia mencapai rata-rata hingga 2,5 kg per harinya. 

 

Oleh karena itu, kesadaran masyarakat dalam upaya pengelolaan sampah pada era milenial saat ini dinilai sangat penting, menimbang bahwa pengelolaan sampah akan semakin rumit seiring perkembangan teknologi yang berbanding lurus dengan kompleksitas kegiatan masyarakat. 

 

Islam memandang pelestarian lingkungan alam khususnya upaya pengelolaan sampah sangat membutuhkan tingkat kesadaran dan kepedulian yang tinggi dari berbagai pihak. Pada hakikatnya, manusia selalu dianggap sebagai agen yang berperan aktif dalam proses memelihara lingkungan di alam sekitar.

 

Namun, di era modern seperti saat ini justru manusia cenderung beralih menjadi agen yang melakukan perusakan dan pemusnahan. 

 

Beberapa ayat di dalam Al-Qur'an telah memuat indikasi terkait problematika kerusakan alam yang disinyalir akan terus menerus berulang akibat ulah perbuatan manusia yang sewenang-wenang. Hal itu seperti yang tercantum dalam QS. Ar-Rum: 41. Allah Swt berfirman: 

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

 

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

 

Mufasir sekelas Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' liahkam al-Qur'an wa al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min as-Sunnah wa Ayi al-Furqan berpendapat, ayat tersebut menjelaskan terkait munculnya berbagai kerusakan baik di laut maupun muka bumi. Misalnya bencana banjir, kekeringan, kesulitan pangan, kebakaran hutan dan lain sebagainya akibat perbuatan zalim manusia yang mengutamakan hawa nafsu. Selain itu, ayat tersebut juga sebagai peringatan agar manusia kembali menuju jalan yang benar. 

 

Namun, apabila peringatan yang telah diberikan semasa di dunia tidak juga mereka hiraukan, maka Allah Swt tidak segan-segan akan memperingatkan mereka ketika di hari pembalasan kelak. 

 

Sementara itu, Imam Al-Maraghi dalam tafsirnya juga mengemukakan penyebab dari kerusakan lingkungan yang sesuai terhadap ilmu pengetahuan serta berbagai argumen yang berkaitan satu sama lain. 

 

Imam Al-Maraghi menafsirkan QS. Ar-Rum: 41 ini dengan meninjau dari aspek manusia yang berbuat kerusakan lingkungan karena bersifat serakah dan mengutamakan hawa nafsunya.

 

Solusi

 

Melalui penafsiran QS. Ar-Rum: 41 tersebut, akan diperoleh pemahaman yang baik bahwa Allah Swt telah memberikan informasi dan peringatan spiritual kepada manusia agar mampu bersikap ramah dan peduli terhadap lingkungan alam, khususnya dalam krisis pengelolaan sampah yang kian merebak pada masa sekarang. 

 

Salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam proses pembenahan pengelolaan sampah di masa mendatang adalah dengan menciptakan inovasi teknologi sampah. Harapannya, ia mampu berperan dalam meminimalisir volume sampah yang ada sekaligus ramah terhadap lingkungan sekitar.

 

Selain itu, sistem pengelolaan sampah di Indonesia juga direkomendasikan menerapkan sistem pengelolaan sampah yang berbasis komunitas dan tidak hanya mengandalkan TPA dengan sistem lahan urug.

 

Dalam hal ini, satu hal paling efektif yang dapat dilakukan masyarakat adalah dengan menumbuhkan kesadaran dalam diri untuk bersedia menjaga kelestarian lingkungan serta memisahkan antara sampah yang berjenis organik dan non organik.

 

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa adanya pemahaman yang baik dan benar terhadap QS. Ar-Rum: 41 akan dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian dalam diri manusia sekaligus sebagai tindakan preventif agar manusia terhindar dari aktivitas perusakan dan pemusnahan kelestarian lingkungan. Karena pada hakikatnya, krisis pengelolaan sampah bukan semata-mata menjadi tanggung jawab dari pihak pemerintah, sangat diperlukan keterlibatan baik yang bersifat preventif maupun pengelolaan dari semua elemen dalam masyarakat.[]