Choose Your Color

Informasi

Berita

Hari Agama Sedunia Sebagai Momentum Memperdalam Pemahaman dan Menghargai Beragam Kepercayaan

Hari Agama Sedunia Sebagai Momentum Memperdalam Pemahaman dan Menghargai Beragam Kepercayaan

  • 2024-01-15 01:40:45
  • Administrator
  • Berita

Oleh: Ihsan Taufiq

(Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Universitas KH. Abdul Chalim/UAC Mojokerto)

HARI Agama Sedunia yang diperingati pada tanggal 21 Januari setiap tahunnya memberikan kesempatan untuk merayakan dan merenungkan keragaman kepercayaan dan agama di seluruh dunia. Inisiatif tersebut mendapat pengakuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia bertujuan untuk menggalang perdamaian, meningkatkan toleransi, dan mengapresiasi kebebasan beragama.

Pertama kali diperkenalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1949, Hari Agama Sedunia diumumkan sebagai respons terhadap situasi pasca Perang Dunia II yang menantang. Pada periode tersebut, kerja sama internasional menjadi suatu kebutuhan mendesak untuk membentuk pemahaman yang lebih baik antarumat beragama, merangsang dialog, dan mendorong toleransi guna mencapai perdamaian dan pengertian di seluruh dunia.

Salah satu dari tujuan utama perayaan tersebut adalah untuk mendorong terjadinya dialog antaragama. Dialog ini tidak hanya terkait dengan pemahaman, melainkan juga melibatkan penghormatan terhadap perbedaan. Melalui dialog, masyarakat memiliki kesempatan untuk menemukan titik-titik persamaan nilai, membentuk hubungan yang lebih baik, dan merintis jalan menuju perdamaian. 

Pengakuan terhadap hak asasi manusia, terutama kebebasan beragama, menjadi esensial dalam mendukung visi ini. Hari Agama Sedunia menandai pentingnya hak asasi manusia, memastikan bahwa setiap individu memiliki hak untuk memilih dan mengamalkan keyakinan agamanya secara damai. Dokumen internasional, termasuk Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, memberikan landasan hukum untuk pengakuan dan perlindungan hak ini.

Sejalan dengan pandangan agama, perayaan Hari Agama Sedunia menggarisbawahi urgensi untuk melindungi hak-hak tersebut di seluruh dunia. Prinsip-prinsip ini mencerminkan nilai-nilai universal yang bersumber dari keyakinan agama dan prinsip hak asasi manusia. 

Oleh karena itu, pemahaman dan implementasi prinsip-prinsip ini di masyarakat membentuk dasar untuk mencapai masyarakat yang inklusif dan saling menghormati sesuai dengan kehendak Allah, sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Baqarah: 256. Allah Swt berfirman:

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ٢٥٦

"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Uraian tersebut menegaskan bahwa dalam agama tidak boleh ada paksaan, dan dengan tegas menyatakan bahwa jalan yang benar telah dibedakan dari jalan yang sesat. 

Seseorang yang menolak beriman kepada thagut (sesembahan selain Allah) dan mempercayai Allah, dapat diartikan sebagai orang yang teguh memegang tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Untuk memperkaya pemahaman terhadap ayat tersebut, dapat merujuk pada hadis Rasulullah dan pandangan para ulama.

Rasulullah Saw juga menegaskan prinsip itu dalam berbagai hadis. Salah satunya adalah hadis riwayat Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada kewajiban dalam agama kecuali akan diberikan kepadanya, dan tidak ada paksaan dalam agama.” (HR. Bukhari Muslim). 

Hadis tersebut menegaskan prinsip kebebasan dalam memilih agama dan menunjukkan bahwa Islam menolak segala bentuk paksaan dalam masalah keyakinan.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-Azim menjelaskan, ayat tersebut menggarisbawahi kebebasan seseorang untuk memilih agamanya tanpa adanya paksaan. 

Sementata, Ibnu Al-Jawzi menekankan bahwa iman kepada Allah adalah fondasi yang kuat, dan ketika seseorang benar-benar meyakini keberadaan Allah, tidak ada paksaan yang dapat mengubah keyakinan tersebut. 

Imam Al-Qurtubi melalui karya tafsirnya menyoroti bahwa ayat tersebut menunjukkan kebijaksanaan Allah dalam memberikan kebebasan kepada hamba-Nya untuk memilih jalan hidayah atau kesesatan.

Secara keseluruhan, QS. Al-Baqarah: 256 menegaskan prinsip fundamental kebebasan beragama dalam Islam. Keimanan kepada Allah dan penolakan terhadap thagut adalah pilihan yang harus dibuat secara sukarela tanpa adanya paksaan. Prinsip ini menjadi dasar bagi toleransi, penghargaan terhadap keberagaman, dan pentingnya memahami keyakinan seseorang tanpa memaksakan pandangan agama tertentu.

Berpindah ke konteks toleransi agama di berbagai negara, dapat dilihat bahwa Indonesia sebagai negara dengan keberagaman agama yang signifikan, menunjukkan komitmen tinggi terhadap sikap toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Baik pemerintah maupun masyarakat secara aktif mempromosikan nilai-nilai toleransi, menciptakan kebijakan dan praktek-praktek yang mendukung dialog serta pemahaman antar umat beragama.

Upaya untuk menciptakan lingkungan yang damai dan harmonis tercermin dalam berbagai kebijakan yang mendukung dialog antarumat beragama. Pemerintah dan masyarakat berusaha untuk memperkuat kerjasama antarumat beragama dengan mengadakan acara-acara dialog, seminar, dan kegiatan-kegiatan lain yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman antarumat beragama dan memperkuat kerukunan di tengah keberagaman agama yang ada.

Dengan demikian, prinsip-prinsip toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia mencerminkan semangat untuk menjalin hubungan yang baik di antara masyarakat yang memiliki kepercayaan dan keyakinan agama yang berbeda, menciptakan fondasi yang kokoh untuk kehidupan bersama yang damai. 

Meskipun telah terjadi kemajuan dalam beberapa aspek, tantangan yang terkait dengan konflik berbasis agama, diskriminasi, dan ketidaksetaraan masih membebani beberapa wilayah di dunia. Fenomena ini menjadi fokus perhatian dalam Hari Agama Sedunia, yang menggambarkan urgensi untuk meningkatkan upaya dalam mengatasi permasalahan tersebut melalui tiga pendekatan utama: pendidikan, dialog, dan promosi toleransi.

Konflik berbasis agama yang masih melanda beberapa wilayah mengindikasikan bahwa upaya untuk mencapai perdamaian dan pemahaman saling memerlukan perhatian lebih lanjut. Pendidikan, sebagai instrumen krusial, dapat memainkan peran penting dalam mengatasi tantangan ini. Pendidikan agama yang inklusif dan holistik berperan dalam membentuk pemahaman mendalam tentang keberagaman agama, mengurangi prasangka, dan meminimalisir ketidakpahaman. 

Selain itu, pendidikan yang mendorong dialog antaragama menjadi kunci untuk membangun jembatan antara komunitas berbeda. Program pendidikan semacam itu menciptakan platform untuk pertukaran pemikiran, pengalaman, dan pandangan antarumat beragama, membuka jalan menuju pemahaman yang lebih baik tentang perbedaan dan memungkinkan terbentuknya kesamaan nilai di tengah keberagaman keyakinan.

Promosi toleransi juga menjadi fokus utama dalam menghadapi tantangan konflik agama. Masyarakat perlu didorong untuk melihat agama-agama lain dengan pikiran terbuka, mengakui nilai-nilai bersama yang dapat mengakar dalam keberagaman tersebut, dan menghargai perbedaan sebagai aspek yang memperkaya masyarakat. 

Program pendidikan yang mengintegrasikan dialog antaragama dapat menjadi tonggak awal untuk menciptakan lingkungan yang mendukung keragaman dan toleransi.

Ayat Al-Qur'an yang menekankan nilai toleransi dan keragaman antara lain dapat ditemukan dalam QS. Al-Hujura:13. Allah Swt berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti."

Ayat tersebut menggarisbawahi keberagaman sebagai kehendak Allah dan menekankan bahwa saling mengenal merupakan tujuan dari perbedaan suku dan bangsa. 

Hadis Rasulullah Saw juga menyoroti pentingnya toleransi. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” 

Hadis tersebut menekankan pada nilai saling mencintai dan menghormati antarindividu, tanpa memandang perbedaan agama atau suku.

Para ulama, seperti Ibn Taymiyyah, menyampaikan pandangan bahwa Islam mengajarkan toleransi dan saling menghormati antarumat beragama. Ia menekankan bahwa toleransi bukan hanya sebagai bentuk kerelaan untuk hidup berdampingan, tetapi juga sebagai konsep yang mendasari hubungan yang baik dan saling menghormati di antara masyarakat yang beragam.

Dengan demikian, ayat-ayat Al-Qur'an, hadis-hadis Nabi, dan pandangan ulama menyampaikan pesan penting tentang pentingnya toleransi, saling menghormati, dan dialog antaragama dalam menghadapi konflik agama. Program pendidikan yang mempromosikan pemahaman antarumat beragama dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan masyarakat yang mendukung keragaman dan toleransi.

Hari Agama Sedunia memegang peranan sentral dalam mendorong nilai-nilai keberagaman, toleransi, dan perdamaian di tengah kompleksitas dunia ini. Melalui sarana dialog, pendidikan, dan upaya bersama, kita memiliki potensi untuk membentuk masyarakat yang lebih harmonis, mengakui keanekaragaman keyakinan sebagai sumber kekayaan budaya dunia. 

Meskipun tantangan masih menghadang, tekad bersama dapat membawa kita menuju dunia yang lebih damai dan penuh saling menghormati. Dalam perjalanan ini, Hari Agama Sedunia memberikan panggilan kepada individu dan komunitas untuk terus bersatu dalam semangat kerjasama, membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik yang dipersembahkan oleh keragaman dan toleransi.[]